Membahas seputar film-film bioskop, drama terbaru dan juga sinetron dari indonesia sampai luar negeri dan juga membahas hiburan lainnya
Banner 728
Banner
Social Bar
Showing posts with label serial wedding agreement. Show all posts
Showing posts with label serial wedding agreement. Show all posts
Friday, October 11, 2019
Wedding Agreement Epsiode 3 part 3
“Aku berangkat dulu,” Bian sudah selesai. Dia meminum jus jeruknya sampai habis lalu beranjak berdiri. Tari mengikuti suaminya, walau masih kesal. “Hei, suaminya mau berangkat kerja kok cemberut?”
Tari menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman. Bian mencubit pipi istrinya pelan. “Senyumnya yang ikhlas dong.” Tari kembali tersenyum, hanya tidak sampai ke matanya. Bian tertawa pelan. Ia menghujani wajah istrinya dengan ciuman. “Ihhh ..., Mas Bian!” protes Tari seraya menghalangi Bian dengan tangannya.
“Senyum dong.” Bian melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Kali ini Tari benar-benar tersenyum. “Nah ..., gitu dong.” Bian mengecup bibir istrinya sebagai hadiah. “Nanti aku yang akan mengantar dan menjemput Tuan Putri. Your word is my command.”
Tari tidak bisa berlama-lama merajuk dengan suaminya. Ada saja yang Bian lakukan untuk membuat suasana hatinya kembali baik. Seperti saat ini. “Janji.” “Iya, Sayang. Kapan, sih, aku pernah nggak menepati janji?” Tari mendengus. Bian mengacak kerudung istrinya sayang. “Aku berangkat dulu ya.” Tari memeluk suaminya erat. “Hati-hati.” “Insyaallah.” Bian memisahkan diri dan mengecup pelipis istrinya lekat.
“Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Tari melambai saat motor suaminya meninggalkan rumah. Ia menutup pagar dan masuk. Senyum semringah menghiasi wajahnya. What a perfect marriage. Alhamdulillah.
**** “Jam berapa pulangnya?” tanya Bian saat mengantarkan Tari ke tempat training. “Ashar sudah selesai,” jawab Tari. “Oke, nanti aku telepon kamu lagi kalau sudah selesai, ya.” “Oke.” Bian memberhentikan mobilnya di lobi hotel. “Aku pergi dulu.” Tari mencium tangan Bian. “Hati-hati,” jawab Bian. Ia mengecup dahi Tari lalu bibirnya. “Nanti aku telepon, ya.” “Oke. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.”
Tari turun dan melambai pada suaminya. Ia masuk ke lobi. Sudah ada beberapa panitia yang hadir di sana. “Wah, Mbak Tari, pagi sekali datangnya,” sapa panitia yang berjaga. Tari tertawa pelan. “Iya, nih. Sekalian bareng sama suami berangkat kerja.”
Bersambung ...
Tuesday, October 8, 2019
Wedding Agreement Episode 3 Part 2
Apakah bercandanya sudah keterlaluan? “Sarah ... maaf kalau-\-\-“ “It’s okay,” Sarah menyeka sudut matanya. “Ada yang bisa aku bantu?” Bian merasa tidak enak. Sarah menarik napas. “Hanya saja ... entahlah, mungkin hanya stress menjelang pernikahan.” “Kamu ragu?” Sarah tidak langsung menjawab. “Mungkin ... a-aku belum bisa melupakanmu.”
Bian bergeming. Suasana menjadi canggung. Ia tidak menyangka Sarah akan berkata seperti itu. Ini seperti kembali ke awal, saat dulu dia meminta Sarah untuk melepaskannya. Apakah Sarah belum bisa membuka hatinya untuk Aldi?
**** Bian memperhatikan Tari yang sedang tidur. Ia baru sampai di rumah pukul sebelas malam. Ia berbincang dengan Sarah sampai lupa waktu. Tari terbangun saat merasakan kasurnya bergerak. Ia mengerjap pelan. “Mas Bian ..., “ panggilnya. “Hei, sori, kamu jadi kebangun.” Bian membelai lembut rambut istrinya. “Baru pulang?” tanya Tari dengan suara serak. “Iya.” Tari hendak duduk tetapi Bian mencegahnya. “Nggak usah, tidur saja lagi.” “Kamu mau makan? Atau .... “ “Nggak usah. Kamu tidur saja. Aku mau bersih-bersih dulu. Habis ini juga mau langsung tidur.” Tari mengangguk.
Bian mengecup bibirnya singkat sebelum beranjak ke kamar mandi. Ia kembali tidur. Ketika Bian kembali ke petiduran, istrinya itu sudah terlelap. Ia merebahkan tubuh sembari memeluk Tari seperti biasa. Entah kenapa, pertemuan dengan Sarah barusan mengusiknya. Ia masih merasa bersalah. Rasanya belum tenang sebelum Sarah benar-benar menikah dengan Aldi. Ia ingin Sarah juga merasakan kebahagiaan yang ia rasakan dengan Tari. Ia berjanji akan membantu Sarah sebisanya.
***** “Akhir pekan ini masuk?” tanya Tari saat sarapan. “Masuk, setengah hari.” “Kamu bawa mobil, ya,” pinta Tari. “Kenapa memangnya?” “Habis pulang kantor jemput aku di Aston, ya. Ada training.” “Terus kamu berangkatnya?” “Anterin ..., “ pinta Tari manja. Bian tersenyum simpul. “Kalau ada maunya aja .... “ Tari mencebik. “Ya, sudah, kalau nggak mau.” Bian tertawa kecil. “Ngambek .... “ Tari mengabaikan Bian dan melanjutkan sarapannya.
Bersambung.. ke sini
Monday, October 7, 2019
Wedding Agreement Episode 3 Part 1
Episode 3
Bian melirik ke ponselnya saat terdengar notifikasi pesan WA masuk. Sebuah senyum terbit di wajahnya. Ia membuka pesan yang masuk. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” “Lagi sibuk?” “Nggak. Kenapa, Sarah?” “Aku mau mampir ngasih undangan, kamu pulang jam berapa?” “Biasa, jam delapan.” “Oke, nanti aku mampir, ya.” “Oke, di lobi aja.” “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.”
Bian meletakkan ponselnya di meja. Ia bersyukur akhirnya Sarah akan menikah. Berkurang sedikit rasa bersalahnya. Ia melirik jam di pergelangan, masih ada tiga puluh menit lagi sebelum Sarah datang. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak lama ponselnya berbunyi. Sarah meneleponnya. “Halo, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” “Sudah sampai?” tanya Bian. Padahal belum pukul delapan. “Iya. Sori, aku kecepetan, ya?” “Nggak apa-apa. Kamu tunggu di kafe saja dulu. Nanti aku ke sana.” “Oke.” “Bye.” “Bye.” Bian segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak mau Sarah menunggu terlalu lama.
***** “Sori, lama banget, ya?” Bian duduk di hadapan Sarah. Ia terlambat tiga puluh menit. “It’s okay,” jawab Sarah seraya tersenyum. “Justru aku yang minta maaf, udah ganggu waktu kamu.” Bian tertawa kecil. “Nggak, lah. Sudah pesan minum?” tanyanya. “Sudah.” Sarah menunjuk cappucino-nya. “Tadi aku mau pesenin kamu black coffe, tetapi khawatir kamu lama. Kalau sudah dingin nggak enak.”
Bian tersenyum. Sarah masih ingat kopi kesukaannya. “Sudah jadi undangannya?” “Alhamdulillah, sudah.” Sarah mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Nih.” “Thanks.” Bian melihat undangan yang berada di tangannya. “Hijau, warna kesukaanmu.” Sarah tersenyum. “Iya. Aldi mengalah, tadinya dia memilih gold.” “Sudah berapa persen persiapannya?” tanya Bian. “Tujuh puluh, lah.” “Jadi di kebun raya?” Sarah mengangguk. “Aldi lagi-lagi mengalah.” Bian tertawa kecil. “Pernikahan impianmu, kan? Pesta kebun bertabur mawar putih.” “Kamu masih ingat.” “Tentu saja,” jawab Bian seraya tersenyum.
Mana mungkin dia lupa. Dulu mereka pernah membahas ini berhari-hari. Bagaimana pernikahan mereka nanti. Sarah tersenyum sedih. Dalam mimpinya, Bian yang menjadi mempelai prianya, tetapi sekarang .... “Aldi banyak mengalah. Mungkin dia takut kamu membatalkan pernikahan,” canda Bian. “Iya ... mungkin ..., “ jawab Sarah dengan mata berkaca. Bian tertegun.
Bersambung... ke sini
Tuesday, October 1, 2019
Wedding Agreement Episode 2 Part 5
Apakah Bian sudah tidak marah lagi padanya? “Ngapain aja?” tanya Bian lagi. Tari mengambil minuman dingin untuk suaminya. “Biasa,” jawab Tari singkat. “Biasa gimana?” Tari mengernyit heran.
Tidak biasanya Bian bertanya banyak tentang pekerjaannya. “Rencana mau nambah varian baru,” jelas Tari sembari meletakkan minuman untuk suaminya. “Oya? Rasa apa?” Bian terlihat antusias. “Barbeku.” “Kapan launching?” Walau masih belum menemukan jawaban atas sikap Bian, ia menceritakan kegiatannya hari ini kepada suaminya. “Sharing-nya lumayan ramai. Rencana selesai sebelum ashar jadi mundur sampai jam lima gara-gara banyak yang minta konsultasi sesudahnya,” cerita Tari. Bian tersenyum.
Ternyata menyenangkan berbagi cerita dengan Tari. Ia menjadi tahu lebih banyak tentang dunia kerja istrinya. “Kamu aneh,” celetuk Tari. “Aneh?” Bian menautkan alisnya. “Iya.
Tiba-tiba saja kepingin tahu detail kegiatanku.” “Kenapa? Salah?” tanya Bian seraya tersenyum simpul. “Nggak, sih. Aku senang kamu mau mendengarkan ceritaku.” Bian meraih tangan Tari di meja. “Aku minta maaf kalau semalam bicaraku agak keras.” Mata Tari berkaca. Ia menggeleng pelan. “Aku yang salah. Seharusnya aku memberitahu kalau pulang terlambat,” sahut Tari. “Sudah, tidak usah di bahas lagi,” Bian tidak ingin memperpanjang. “Aku juga minta maaf kalau selama ini tidak banyak meluangkan waktu untuk kamu.” Tari tersenyum mengerti. “Aku ngerti, kok. Kamu kan bekerja.” Bian merentangkan tangannya. “Sini.” Tari beranjak berdiri dan duduk di pangkuan suaminya.
“Forgive me ...?” pinta Bian lembut. Tari mengangguk dengan air mata sudah jatuh. Ia memeluk suaminya erat. Kadang ia memang merasa sepi saat Bian pulang larut malam. Tidak ada siapa-siapa yang menemani. Tetapi ia berusaha mengerti. Dahulu ia sering melihat Pakde pulang larut malam karena bekerja sampingan. Bude tidak pernah mengeluh sedikit pun. Bude selalu melayani Pakde dengan tulus. Ia ingin belajar menjadi istri yang seperti itu. Tari yakin ini tidak akan selamanya. Ia memimpikan bisa lebih banyak meluangkan waktu bersama suaminya. Entah kapan itu terjadi. Tapi ia yakin, suatu ketika akan terwujud. Sementara, ia harus bersabar menunggu saat itu tiba. **** Sabar, ya, Tari ...
Bersambung ke episode 3
Sunday, September 29, 2019
Wedding Agreement Episode 2 Part 4
**** “Bapak-bapak berapa lama biasanya meninggalkan rumah untuk bekerja? Dua belas jam? Lima belas jam?” ustaz memberikan khotbah Jumat. “Pergi jam enam pagi pulang jam sepuluh malam malam?”
Bian merasa ustaz sedang menunjuk dirinya. “Kalau pulang apa yang dilakukan? Meminta makan? Langsung tidur? Main handphone? Atau menonton televisi?” Kalau terlalu lelah, biasanya Bian langsung tidur.
“Apa pernah saat sampai di rumah kita menanyakan kabar istri kita? Apa yang dilakukannya seharian? Masalah apa saja yang dihadapinya?” lanjut ustaz. “Apakah dia lelah setelah beraktivitas? Bagaimana kabar anak-anak hari itu? Apa pernah?” Kadang-kadang, jawab Bian dalam hati.
Tapi dia memang tidak pernah menanyakan detail aktivitas istrinya hari itu. “Seorang istri menunggu seharian untuk bisa curhat dengan suaminya. Banyak yang ingin diceritakannya. Istri perlu mengeluarkan itu semua. Bayangkan kalau masalahnya menumpuk sampai akhirnya menjadi besar karena tidak pernah dicurahkan.”
Apakah Tari menyimpan masalahnya? “Istri punya hak atas waktu suami. Jangan sampai alasan pekerjaan dan mencari nafkah menjadi pembenaran untuk tidak memberikan perhatian kepada istri,” tambah ustaz. “Jangan sampai istri mencari curahan hati selain suami, bisa gawat jadinya.”
Bian merasa tertohok sangat dalam. Masih sedikit waktu yang ia berikan untuk istrinya. Tari memang tidak pernah protes kalau ia pulang larut malam. Tetapi bisa jadi istrinya itu menginginkan waktu lebih banyak untuk bisa berdua-duaan dengannya. Mengobrol dan berbagi cerita. Ia menarik napas. Mulai sekarang ia harus lebih memperhatikan istrinya.
**** “Kamu sudah pulang?” Ketika mendengar suara motor suaminya masuk ke garasi, Tari segera keluar. Baru pukul delapan malam, tidak biasanya Bian pulang jam segini. “Iya.” Bian membuka helmnya. “Kenapa? Aku nggak boleh pulang cepat?” “Bukan begitu.” Bian tertawa kecil. “Yuk masuk.” Ia menggandeng istrinya ke dalam. “Aku beli siomay, kamu mau?” Bian meletakkan tas dan plastik belanjaan di meja makan. “Boleh.” Tari mengambil piring di dapur.
“Tadi jadi ketemu sama produsen?” tanya Bian seraya duduk. “Jadi,” jawab Tari. Ia memindahkan siomay ke piring seraya melirik suaminya singkat.
Bersambung... ke sini
Saturday, September 28, 2019
Wedding Agreement Episode 2 Part 3
“Assalamu’alaikum.” Tari memberi salam saat masuk. “Wa’alaikumussalam.” Tari menuju ruang tengah. Suaminya sedang menonton televisi, sudah berganti baju.
“Baru pulang, Sayang?” tanya Tari seraya meletakkan tas di meja makan. Ia sedikit gugup. Takut suaminya marah karena pulang terlambat dan tidak memberitahu. “Iya,” jawab Bian singkat. Tari duduk di samping suaminya. “Sudah makan?” tanyanya seraya mencium tangan Bian. “Belum.” Tari merasa bersalah, ia tidak masak apa-apa hari ini. “Aku masakin, ya.” Ia hendak beranjak berdiri. “Tidak usah,” jawab Bian datar. Matanya masih menatap ke televisi. Ia sengaja pulang cepat hari ini untuk makan malam bersama istrinya, tetapi Tari tidak ada di rumah. Tari urung ke dapur. Ia kembali duduk.
“Maaf ... tadi bantuin Ami, ada acara di Senayan, pulangnya jadi kemalaman.” “Ponsel kamu habis baterai?” tanya Bian. Tari menggeleng. “Kenapa tidak memberitahu kalau pulang terlambat?” Suara Bian mulai naik. “Ma-maaf ... aku pikir kamu pulang telat lagi, seperti biasa,” jawab Tari lemah.
“Jadi kalau aku pulang telat, kamu bisa seenaknya pulang malam, begitu? ” Ya Allah ... Tari sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ini kali pertama ia pulang malam. “Bukan begitu. A-aku benar-benar tidak menyangka kalau kegiatannya mundur sampai malam. Jalanan juga macet.” Tari mencoba memberikan alasan. “Aku pulang pukul sepuluh atau sebelas malam itu bekerja, Tari. Bukan main-main. Aku mencari nafkah untuk keluarga kita.” Mata Tari sudah berkaca.
Dia sama sekali tidak pernah protes kalau suaminya pulang larut malam. “Kamu tahu betapa khawatirnya aku saat menunggumu pulang?” Tari mengangguk lemah. “Maaf .... “ Ia tidak punya alasan lain. Seharusnya ia memberitahu Bian kalau akan pulang terlambat. Bian mendesah kesal. Ia mematikan televisi dan beranjak berdiri. “Aku mau tidur.” Tari menatap kepergian suaminya dengan pandangan sedih. Air matanya menetes.
**** “Hari ini aku mau ketemuan sama produsen, terus siang ada undangan untuk sharing dikomunitas bisnis.” Tari memberitahu Bian kegiatannya hari ini. “Insyaallah sebelum magrib aku sudah sampai di rumah.” Bian hanya mengangguk singkat. Dia menghabiskan sarapannya. “Aku berangkat dulu.” Tari mengikuti suaminya ke depan. “Hati-hati.” Ia mencium tangan Bian lalu memeluk suaminya erat. Walau sedang marah, ia yakin Bian tidak akan menolak pelukannya. Bian melingkarkan tangan di bahu istrinya. Ia mengecup puncak kepala istrinya singkat. Ia memang emosi semalam, tetapi ia tidak tahan harus berlama-lama mendiamkan istrinya.
“Assalamu’alaikum,” salam Bian ketika dia sudah berada di motornya. “Wa’alaikumussalam.” Tari melambai. Ia berharap Bian tidak berlama-lama marah padanya.
Bersambung....ke sini
Wedding Agreement Episode 2 Part 2
“Jam berapa ini?” Tari memicingkan mata menatap jam di dinding. Pukul sebelas. Malam sekali suaminya pulang. “Sudah kamu tidur saja lagi.” Bian ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tari kembali merebahkan tubuhnya dan langsung terlelap. ****
Tari memasukkan laptop-nya ke tas. Ia baru saja memberikan materi singkat tentang FB ads kepada reseller-nya di sebuah food court. Ketika hendak beranjak berdiri, ponselnya berbunyi. Ia mengurungkan niat dan duduk kembali. Ia mengambil ponsel dari tas, teryata Ami meneleponnya. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alakumussalam. Tari, lo di mana?” “Semanggi.” “Alhamdulillah. Ke Senayan sebentar dong.” “Senayan? Ngapain?” “Bantuin gue. Ada acara nongker, nih. Rame yang datang, kelabakan gue sendirian.” Tari melihat jam tangannya. Pukul tiga sore. Sepertinya masih sempat kalau dia mampir ke sana sebentar. “Oke.” “Kyaaah! Thank you so much.” Tari tersenyum kecil. “Ya udah. Gue ke sana.” “Oke. Bye. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Tari bergegas menuju parkiran. Tidak sampai tiga puluh menit ia sudah sampai ke tujuan.
Setelah salat ia menemui Ami di area food court. “Tariii!” sambut Ami heboh. “Makasih banyak udah dateng.” Tari mencium kedua pipi sahabatnya singkat. “Iya. Biasanya ada, deh.” Ami tertawa kecil. “Yuk, udah pada mulai.” Ia mengajak sahabatnya ke meja yang sudah penuh dengan laptop. Tari berencana membantu Ami sampai magrib, ia tidak mau kemalaman sampai di rumah. Tetapi kegiatan berlangsung sampai jam delapan malam. Ia sedikit cemas, karena jalanan lebih macet pada malam hari, saat semua orang pulang kerja. “Sori, Tari, lo jadi kemaleman, ya.” Ami meminta maaf. “Nggak apa-apa. Mas Bian juga biasanya jam segini belum pulang, kok.” “Beneran?” Ami memastikan. “Iya,” jawab Tari. “Gue pulang duluan, ya.” Tari mencium kedua pipi sahabatnya. “Oke. Hati-hati di jalan.” Tari menuju parkiran. Saat mobilnya sudah di jalan raya, kekhawatirannya terbukti. Macet di mana-mana. Ia berharap bisa sampai di rumah sebelum suaminya pulang. Pukul sepuluh mobilnya masuk garasi. Hatinya berdebar saat melihat motor suaminya terparkir di sana.
bersambung ke sini
Thursday, September 26, 2019
Wedding Agreement Episode 2 Part 1
“Tempenya ada, Pak?” tanya Tari seraya mencari-cari dengan matanya. “Waduh, habis, Neng,” jawab Pak Diman, tukan sayur gerobak yang biasa lewat di depan rumahnya.
“ Yaaah .... “ Padahal ia sedang kepingin membuat tempe mendoan. “Tahu putih aja, Neng. Bisa bikin martabak tahu. Ini ada kulit martabaknya,” tawar Pak Diman. “Boleh, deh.” Pak Diman mengambilkan pesanan Tari. “Ada lagi, Neng?” “Itu saja, Pak. Jadi berapa semuanya?” Selain yang barusan, Tari juga membeli ikan, sayuran, dan bumbu dapur.
“Jadi 80 ribu, Neng.” Pak Diman mengangsur kantong plastik belanjaan ke Tari. “Ini, Pak.” Tari memberikan selembar seratus ribuan. “Sebentar kembaliannya, Neng.” “Nggak usah, Pak.
Ambil aja kembaliannya.” “Eh, tapi ini banyak banget, Neng,” tolak Pak Diman halus. “Nggak apa-apa, Pak,” yakin Tari. “Waduh, terima kasih banyak, Neng. Mudah-mudahan Neng Tari makin berkah rezekinya dan sehat selalu,” doa Pak Diman. Mata Tari berkaca. “Iya, makasih doanya, Pak.” Ia masuk dan menyeka air matanya. Mungkin sedekah yang ia berikan tidak seberapa, tapi doa tulus dari Pak Diman, mungkin itu yang Allah dengar dan ijabah.
Sejak gencar belanja di warung tetangga, ia selalu mengusahakan belanja kebutuhan sehari-hari di daerah sekitarnya. Ia sekarang tahu kalau tidak jauh dari rumahnya ada yang membuka toko kelontong dan sembako. Ia tidak perlu jauh-jauh ke supermarket besar. Setiap belanja juga ia usahakan untuk tidak menawar, kadang ia lebihkan sedikit. Pesan yang selalu ia ingat dari mentornya adalah, uang yang kita belanjakan sudah jelas akan dimanfaatkan oleh si penjual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Itu akan lebih manfaat untuk mereka.
Tari meletakkan belanjaan di dapur. Hari ini ia akan membuat pindang patin khas Palembang. Ia berharap suaminya pulang cepat malam ini sehingga mereka bisa makan malam bersama. Tari mendengar suara pintu dibuka. Ia mengerjap dan bangkit duduk dari petiduran. “Baru pulang, Mas?” Suaranya terdengar serak karena baru bangun tidur. “Iya. Maaf kamu jadi kebangun.” Bian menghampiri Tari dan mengecup dahinya pelan. “Kamu mau makan?” tanya Tari dengan mata mengantuk. “Nggak usah. Aku sudah makan tadi di kantor."
Bersambung ke sini
Tuesday, September 24, 2019
Wedding Agreement The Series Episode 1
Pada kangen sama Bian dan Tari ? Sembari menunggu novelnya, berikut ada serial manis tentang mereka
“Assalamu’alaikum.” Bian mengucapkan salam saat membuka pintu rumahTari yang sedang memotong buah di dapur langsung menghentikan aktivitasnya. “Wa’alaikumussalam.” Ia mencuci dan mengelap tangannya lalu beranjak ke depan. “Kok lama banget?” Suaminya baru saja pulang dari masjid. Seperti biasa, setiap akhir pekan ada kajian setelah salat Subuh. Hari ini Tari tidak ikut karena sedang datang bulan .
“Iya, tadi ngobrol dulu sama bapak-bapak, biasa .... ” Bian menutup pintu dan melangkah ke dalam Tari segera menyambut suaminya dengan pelukan. Ia menghirup napas dalam. “Kamu wangi.” Ia betah berlama-lama berada di dalam dekapan Bian. Selain rasa aman, ia juga merasa bahagia. Bian tertawa kecil. “Kamu juga wangi ... kue,” candanya.
“Habis bikin apa?” “Brownies,” jawab Tari masih menyandarkan kepalanya di dada Bian “Sounds delicious.” Bian mengusap punggung istrinya perlahan “Hmmm ..., “ gumam Tari tidak jelas.
Masih menikmati dekapan suaminya “Aku lapar,” rengek Bian “Sebentar lagi.” Bian tersenyum kecil. Istrinya seorang pemeluk. Ia baru tahu hal itu setelah mereka menjadi suami istri yang sesungguhnya. Tari tahan berpelukan selama dua menit penuh.
Perlu diketahui, dua menit itu lama. Coba saja hitung dari satu sampai enam puluh, lalu dikali dua. Hitung sesuai dengan detik jam, jangan cepat-cepat. Nah ... lama, kan?
Menurut penelitian, pelukan memang memberikan rasa aman, merangsang keluarnya hormon oksitosin dan serotonin yang menimbukan rasa tenang dan bahagia, dan meningkatkan keterikatan spiritual dan emosional dengan pasangan. Tapi dengan pasangan halal, ya “Kamu wangi,” ulang Tari. Masih melingkarkan tangan di pinggang suaminya “Iya, kamu sudah bilang tadi,” Bian tertawa pelan Tari mendongak menatap suaminya lekat “Kenapa?” tanya Bian Tari menggeleng.
Sampai detik ini rasanya masih seperti mimpi. Bian benar-benar menjadi miliknya. Hati suaminya tidak lagi terbagi. “I love you.” Bian tersenyum simpul. “And I-love-you.” Ia mengecup bibir istrinya singkat. “Boleh aku makan sekarang. Lapar .... “
Tari berdecak kesal. Bian merusak momen romantisnya “Jangan merajuk.” Bian mencubit pipi istrinya pelan. “Nanti aku kasih lagi.” Tari mencebik. Ia memisahkan diri dari suaminya. “Tadi ustaznya siapa?” Ia menggandeng tangan Bian menuju meja makan “Ustaz Andre,” jawab Bian seraya duduk Tari ke dapur mengambil sarapan untuk suaminya “Oya? Keren dong.”
Ia juga pernah menghadiri pelatihan yang diisi oleh Ustaz Andre “Iya. Materinya juga keren.” Tari meletakkan piring berisi potongan buah di meja “Buah aja?” tanya Bian. Padahal dia sedang lapar. “Mana brownies-nya?” “Buah dulu.” Tari duduk di hadapan Bian seraya tersenyum manis pada suaminya. “Sunahnya buah dulu.” “Baik Bu Ustazah,” canda Bian Tari tersenyum simpul. “Ustaznya cerita apa tadi?” Bian menusuk pepaya dengan garpu. “Tentang rezeki.”
“Terus .... “ Tari menunggu kelanjutannya Bian mengunyah pelan. “Jadi, kata ustaznya, rezeki itu bermacam-macam dan ada tingkatannya. Termasuk keterbatasan yang kita miliki, itu juga rezeki.” Ia memulai penjelasannya “Keterbatasan?” Tari menautkan alisnya. “Maksudnya?” Bian kembali menusuk pepayanya. “Iya, keterbatasan. Manusia kan punya keterbatasan. Pendengaran kita terbatas. Coba kalau kamu punya pendengaran seperti superman, apa nggak pusing setiap hari mendengar suara berisik dari ujung dunia?”
Tari cengengesan. “Ogah, nanti ngedengerin orang-orang gosip tentang aku, bikin sakit hati.” “Nah, nggak mau, kan?” “Terus apa lagi?” “Minum, dong. Seret, nih,” pinta Bian Tari menyerahkan gelasnya. “Nih.” Makan buah kok seret, batinnya Bian meminum seteguk kemudian melanjutkan ceritanya. “Keterbatasan lain seperti mata. Penglihatan kita terbatas.
Tidak bisa melihat yang sangat jauh, atau makhluk gaib.” Bian kembali memakan pepayanya. “Coba kalau kamu bisa melihat yang gaib, pasti ngeri setiap kali masuk kamar mandi.” “Ih, kok jadi horor sih ceritanya,” protes Tari. Dia jadi merinding memikirkan masuk ke kamar mandi dan melihat ... Bian tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Mau lanjut nggak, nih?” “Iya, lanjut.”
“Keterbatasan lain adalah umur. Coba bayangkan kalau kita tidak mati-mati, mau sampai berapa umur kita? Kalau yang sakit bisa sampai ratusan tahun. Terus berapa banyak harta yang harus kita punya untuk menghidupi anak , cucu, cicit, cocot, cecet .... “ Bian mengarang sendiri istilah yang terakhir Tari mengangguk-angguk membenarkan “Jadi keterbatasan yang kita miliki adalah rezeki, dan itu harus disyukuri,” tutup Bian Membicarakan tentang rezeki, membuat Tari ingat sesuatu. Anak.
Sampai sekarang ia belum hamil juga. Kadang sedih ketika ada yang bertanya apakah dia sudah hamil atau belum “Kenapa, Sayang?” tanya Bian saat melihat perubahan pada raut Tari. Dia meletakkan garpu dan meraih tangan istrinya seraya mengusapnya pelan Tari tersenyum canggung. “Nggak.” Tapi Bian tidak percaya begitu saja. “Nggak salah lagi,” candanya Tari tertawa kecil. “Nggak ada apa-apa.” “Tuh, kan ... mulai, deh,” balas Bian. “Cerita, dong.”
Tari menarik napas. “Anak juga rezeki, kan?” Bian tertegun, mengerti apa yang dimaksudkan istrinya. “Iya, anak juga rezeki.” Tari tidak bicara apa-apa lagi “Kamu sedih?” tanya Bian Tari menggeleng. Lalu mengangguk Bian meremas tangan istrinya itu pelan. “Kita menikah belum dua tahun. Bahkan setahun pertama aku sia-siakan begitu saja, bukannya berusaha membuat kamu hamil, malah pisah kamar.”
Tari tersenyum kecil mengingat pernikahannya dulu “Sini .... “ Bian merentangkan tangan, hendak memberikan pelukan kepada istrinya Tari beranjak berdiri dan duduk di pangkuan suaminya. Bian mendekapnya ringan. Ia menyandarkan kepala di bahu suaminya “Rezeki itu akan mengejar pemilknya sampai dapat. Sebelum ajalnya tiba.” Bian mengecup sayang kepala istrinya. “Jadi kita tidak perlu sedih, karena ia pasti datang.” “Aku nggak sedih, aku cuma .... “ Suara Tari terdengar serak Bian tidak bicara, ia hanya mengeratkan dekapan dan menunggu sampai istrinya tenang
“Gimana kalau kita nonton siang ini?” usul Bian setelah beberapa menit “Nonton?” Tari malas keluar rumah hari ini “Iya.” Bian terdengar semangat. “Seperti yang dulu pernah kita lakukan, kencan di rumah.” Tari mendongak. “Seriusan?” serunya senang Bian mengangguk. Mudah sekali membuat suasana hati istrinya menjadi baik “Makasih, Sayang.” Tari mengecup bibir suaminya singkat.
Ia langsung beranjak berdiri dan menuju tangga “Mau ke mana?” tanya Bian saat istrinya menaiki tangga “Siap-siap!” seru Tari sebelum masuk ke kamar Sebuah senyum penuh rencana tercetak di wajah Bian. Mungkin kencan ini akan berakhir manis. Atau ..., bagaimana kalau mereka skip saja acara menonton film dan langsung ke main course ?
Bian beranjak berdiri dan menyusul istrinya ke kamar “Sayang, belanjaan kemarin kamu taruh di mana? Ada pembalutku di sana.” tanya Tari ketika suaminya masuk ke kamar Bian tertegun. Sial! Ia baru ingat kalau istrinya sedang datang bulan. Gagal, deh. **** Coba lagi lain kali, Bian.
Bersambung ke sini
Bersambung ke sini
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mengungkap Misteri Mitos Timur yang Mencekam: Ulasan Lengkap & Sinopsis Film SUANGGI - ILMU KUTUKAN (2026)
Dunia perfilman horor Indonesia kembali diguncang oleh karya yang mengangkat kearifan lokal serta cerita rakyat dari wilayah Timur Indonesia...
Feed
-
Halo, Geeks dan para pecinta komik! Kalau kita bicara soal supervillain paling ikonik, kejam, tapi punya kharisma luar biasa di dunia Marv...
-
Setelah merampungkan gelar sarjana Sastra Inggris pada tahun 1993, Christopher Nolan tidak langsung melenggang mulus ke kursi sutradara Holl...
-
Siapa yang sudah nonton film terbaru garapan Christopher Nolan, The Odyssey ? Film epik fantasy action yang dirilis tahun 2026 ini bener-be...


