Setelah merampungkan gelar sarjana Sastra Inggris pada tahun 1993, Christopher Nolan tidak langsung melenggang mulus ke kursi sutradara Hollywood. Ia memulai jalannya dari bawah—bekerja sebagai pembaca naskah (script reader), operator kamera, hingga menyutradarai film-film korporat dan industrial.
Di tengah kesibukan itu, ia menulis, menyutradarai, dan menyunting film pendek hitam-putih berjudul Larceny (1996). Difilmkan hanya dalam waktu akhir pekan menggunakan peralatan terbatas dan kru kecil, proyek yang dibiayai sendiri ini sempat tampil di Festival Film Cambridge 1996 dan dianggap sebagai salah satu film pendek terbaik UCL. Sayangnya, karena alasan tertentu, film ini kini telah ditarik dari peredaran publik. Nolan kemudian kembali menggarap film pendek ketiganya, Doodlebug (1997), yang menampilkan seseorang yang tampak memburu seekor serangga menggunakan sepatunya, sebelum akhirnya menyadari bahwa serangga itu adalah miniatur dirinya sendiri.
Menghadapi Penolakan dan Kelahiran Following (1998)
Pada pertengahan 1990-an, Nolan dan Emma Thomas sempat mencoba menggarap film fitur berjudul Larry Mahoney, namun proyek tersebut akhirnya dibatalkan. Pada masa-masa ini, Nolan mengalami banyak penolakan karena minimnya sumber pendanaan di Inggris. "Jujur saja, industrinya terasa sangat eksklusif... Tidak pernah mendapat dukungan apa pun dari industri film Inggris," kenangnya.
Tak patah semangat, Nolan mencetuskan ide untuk film fitur pertamanya, Following (1998). Mengambil inspirasi dari pengalamannya tinggal di London dan apartemennya yang pernah dibobol maling, film ini bercerita tentang seorang penulis muda pengangguran yang membuntuti orang asing di jalanan London demi mencari bahan untuk novelnya, sebelum akhirnya terseret ke dalam dunia kriminal yang gelap.
Diproduksi secara independen dengan anggaran sekitar £3.000 (hanya melibatkan teman-teman sebagai kru dan pemain, serta dishooting setiap akhir pekan selama setahun), Following sukses memenangkan berbagai penghargaan festival dan mendatangkan pujian kritis. Kritikus film terkemuka memuji gaya visualnya yang ramping dan penggunaan kamera hand-held yang tangkas, mengukuhkan Nolan sebagai sutradara debutan yang sangat berbakat.
Lompatan Besar Menuju Memento (2000)
Kesuksesan Following membuka jalan bagi Nolan untuk melompat ke skala produksi yang jauh lebih besar.
"Perbedaan antara syuting 'Following' bersama teman-teman yang memakai pakaian sendiri dan ibu saya yang membuatkan sandwich, dengan menghabiskan $4 juta uang orang lain untuk 'Memento' dan memiliki seratus kru, adalah, sampai hari ini, lompatan terbesar yang pernah saya ambil." — Christopher Nolan (2012)
Ide Memento (2000) berawal dari sang adik, Jonathan Nolan, tentang seorang pria penderita amnesia anterograde yang menggunakan catatan dan tato untuk memburu pembunuh istrinya. Nolan mengembangkan cerita tersebut dengan alur mundur (reverse narrative).
Meskipun sempat ditolak oleh berbagai studio besar yang takut film ini tidak laku, Memento akhirnya diproduksi dengan anggaran $4,5 juta dan dibintangi oleh Guy Pearce serta Carrie-Anne Moss. Berkat pemasaran dari mulut ke mulut, film ini sukses meraup $40 juta secara global, menuai pujian kritis yang luar biasa, serta mengantar Nolan meraih nominasi Oscar pertamanya untuk kategori Skenario Asli Terbaik (Best Original Screenplay). Pada tahun 2001, Nolan dan Emma Thomas juga mendirikan rumah produksi mereka, Syncopy Inc.
Insomnia (2002) dan Label "Auteur"
Terkesan dengan karya-karyanya, pembuat film Steven Soderbergh merekomendasikan Nolan kepada Warner Bros. untuk menyutradarai psychological thriller Insomnia (2002). Sebagai remake dari film Norwegia berjudul sama, film yang dibintangi oleh Al Pacino, Robin Williams, dan Hilary Swank ini berkisah tentang dua detektif Los Angeles yang dikirim ke sebuah kota di Alaska untuk menyelidiki pembunuhan seorang remaja.
Meskipun sering disebut sebagai outlier dalam filmografi Nolan karena dianggap kurang konvensional dibanding ciri khasnya yang lain, Insomnia sukses meraup $113 juta dan dipuji karena berhasil mengeksplorasi isu moralitas dan rasa bersalah secara mendalam.
Ketiga film awalnya—Following, Memento, dan Insomnia—sukses membangun reputasi Nolan sebagai seorang sutradara auteur. Setelah itu, Nolan sempat menulis naskah biografi Howard Hughes (yang harus ia simpan karena Martin Scorsese menggarap The Aviator) dan sempat dikaitkan dengan adaptasi novel Ruth Rendell, sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran besar berikutnya: menyutradarai kisah sang Kesatria Kegelapan, Batman Begins.
Bagaimana menurutmu? Perjuangan Christopher Nolan dari film independen berbiaya £3.000 hingga menjadi salah satu sutradara terbesar abad ke-21 ini benar-benar membuktikan bahwa dedikasi dan visi kuat tidak akan pernah mengkhianati hasil. Sampaikan pendapatmu di kolom komentar!
No comments:
Post a Comment