Halo, moviegoers! Kalau sebelumnya kita sudah bahas bagaimana Nolan merintis karier dari nol sampai mendominasi Hollywood lewat trilogi Dark Knight dan Inception, sekarang kita masuk ke era di mana dia benar-benar diakui sebagai salah satu sutradara paling disegani abad ini (2014–2022).
Di periode ini, Nolan nggak cuma bikin film keren, tapi juga aktif banget memperjuangkan format film seluloid (analog) agar tidak punah di tengah gempuran era digital. Yuk, kita intip perjalanan serunya!
Menembus Lubang Cacing Lewat Interstellar (2014)
Setelah sukses dengan mimpi-mimpi di Inception, Nolan bikin penonton terpukau lewat film fiksi ilmiah bertema ruang angkasa, Interstellar (2014). Naskah awalnya sebenarnya ditulis oleh sang adik, Jonathan Nolan, dan tadinya mau disutradarai oleh Steven Spielberg.
Dibantu oleh teori ilmiah dari fisikawan Kip Thorne, film yang dibintangi Matthew McConaughey dan Anne Hathaway ini berkisah tentang sekelompok astronot yang nekat melintasi lubang cacing (wormhole) demi mencari rumah baru bagi umat manusia.
Hasilnya? Luar biasa! Film ini bukan cuma sukses meraup $773 juta secara global, tapi juga dipuji karena akurasi ilmiahnya yang tinggi—bahkan sampai dimuat dalam jurnal akademik, lho! Interstellar juga sukses membawa pulang Piala Oscar untuk Efek Visual Terbaik.
Pejuang Film Analog & Aksi Kemanusiaan di Dunkirk (2017)
Di pertengahan dekade 2010-an, Nolan sibuk banget dengan dunia pelestarian film. Lewat perusahaannya, Syncopy, dan kolaborasinya dengan berbagai lembaga arsip dunia, ia mati-matian membela eksistensi media analog.
Setelah sempat jadi produser Eksekutif untuk film-film superhero DC, Nolan akhirnya kembali ke kursi sutradara lewat film Perang Dunia II, Dunkirk (2017). Berlatar evakuasi besar-besaran tentara Sekutu dari pantai Dunkirk, Prancis, Nolan sengaja merancang film ini sebagai kisah bertahan hidup yang minim dialog, sangat sensorik, dan eksperimental.
Usahanya nggak sia-sia. Dunkirk meraup lebih dari $526 juta (menjadikannya film Perang Dunia II terlaris sepanjang masa) dan, yang paling dinanti-nanti, mengantarkan Nolan meraih nominasi Oscar pertamanya untuk Sutradara Terbaik!
Tantangan Pandemi dan Teka-Teki Waktu dalam Tenet (2020)
Pada tahun 2018, Nolan sempat bikin heboh Festival Film Cannes saat memamerkan cetakan baru 70mm dari mahakarya Stanley Kubrick, 2001: A Space Odyssey.
Tak lama berselang, ia merilis proyek sci-fi penuh teka-teki bertajuk Tenet (2020). Film ini sempat bikin sejarah karena menjadi blockbuster Hollywood pertama yang nekat tayang di bioskop di tengah ketidakpastian pandemi COVID-19. Berkisah tentang seorang protagonis tak bernama yang menjelajahi waktu demi menghentikan ancaman global, Tenet menjadi salah satu film Nolan yang paling memecah belah opini penonton. Meskipun alurnya bikin pusing tujuh keliling dan pendapatannya terdampak pandemi ($363 juta), film ini tetap dipuji atas ambisi visualnya yang gila-gilaan dan kembali menyabet Piala Oscar untuk Efek Visual Terbaik.
Bagaimana menurutmu? Dari menjelajahi ujung galaksi di Interstellar, menyelamatkan sejarah di Dunkirk, hingga membalikkan waktu di Tenet, dekade ini benar-benar membuktikan kalau Christopher Nolan tidak pernah takut keluar dari zona nyaman. Mana nih film era ini yang jadi favoritmu? Tulis di kolom komentar, ya!
No comments:
Post a Comment